Jika Anak Tetangga Main dengan Anak Kita di Rumah

Suatu malam, sebuah grup (whatsapp) dari kumpulan alumni webinar HS (Homeschooling) usia dini sedang ramai. Malam itu, para member grup lagi pada ngomongin tentang anak kita bergaul dan bermain dengan anak tetangga. Memang hal ini bagus untuk sosialisasi anak kita, apalagi anak-anak itu cepat akrab walau baru kenal. Akan tetapi, sering terjadi sedikit kekhawatiran apabila anak tetangga melakukan hal-hal yang tidak tertib (atau nakal). Kita, orang tua, kuatir apabila anak kita meniru kenakalan anak tetangga, padahal kita udah capek-capek brainwash si anak untuk berperilaku baik. Nah, karena ada teman saya bercerita tentang kekesalannya melihat anak tetangga yang main dengan balitanya di rumahnya lalu si anak itu (padahal usianya lebih tua) merusak beberapa mainan dan sering masuk kamar orang tanpa permisi, jadi saya tanyakanlah untuk dapat masukan.

Me: ikut nimbrung.. ada temen cerita.. klo misal ada anak main k rmh.. trus dy misalny rusakin mainan yg bukan miliknya trus sering masuk kamar tanpa izin.. takutnya kan anak kita jd niru anak tetangga itu.. enakny klo gitu ksh tw gmn y? mgkn dy begitu krn meniru ortunya.. tp klo ksh tw ortuny kan jg ga enak

Yang kemudian dijawab oleh Mbak Lala (Mira Julia -pakar & praktisi HS) yang memberikan masukan kreatifnya. Saya tulis disini karena sebagai pengingat untuk diri saya nanti.

Mbak Lala ‬: Mb hanifah, mungkin bisa diajak main pura2.. Jadi kalau ke rumah tante pura2nya ke istana mainan (misalnya). Trus dia dikasih karcis. Sambil bilang. Di istana mainan boleh main apa saja tapi nggak boleh berantakan. Kalau tidak mengembalikan mainan nanti dapet kartu kuning. Kalau 3x kartu kuning dikasih kartu merah nggak boleh masuk lagi ke istana mainan. Kalau kejadian anak dapat kartu merah , maka langsung bilang “waa ada yg dapat kartu merah berarti istana mainan tutup”. Anak2 diminta keluar, tutup pintuhya. Trus ajak anak sendiri keluar dr rumah kemanaaa gt, jadi nggak seperti ngusir.

Mbak Lala : Ada perjanjian yg dapet kartu merah baru boleh main lagi kalau datang sama ibunya (justru menurutku gpp ibunya biar datang spy diceritakan ttg “aturan main”) kalau aku sih nggak sungkan ngomong sama orangtua krn kan maksudnya buat kepentingan sama2. Bukan menyatakan dia nakal, tp cm bilang aja bahwa ada aturan main ini..

Mbak Lala : Yg susah sih praktek di lapangan memang. Tp menurutku selama kita nggak pakai marah, hanya menjalankan aturan main biasanya orangtua anak tetangga nggak papa kok

Mbak Lala ‬: Trus bikin “peer pressure” dikit. Jadi kalau ada satu anak dapat kartu merah maka istana mainan langsung tutup sementara jadi yg lain kan merasa rugi nih gara2 si A. Jd di kemudian hari mereka saling mengingatkan spy nggak rugi semua

Mbak Lala ‬: Kalau aku biasanya nggak bisa ditawar tapi untuk mencairkan suasana aku melakukan hiburan lain. Misalnya kalau dalam kass tadi, istana mainan tutup tp anak2 yg nggak nakal diajak main ke taman. Di taman beli eskrim sambil diberikan pengertian bahwa ini terjadi karena ada aturan

Mbak Lala ‬: Atau kalau dalam kasus anak sendiri misal melanggar kesepakatan maka langsung berlaku konsekwensi. Tp kalau suasana mulai nggak enak, aku mulai cari hiburan lain misal ngajak main, bikin kue atau apa. Jadi konsekwensi (hukuman) jalan terus. Tp kalau kita nggak tega kita hibur disisi yg lain tp tidak mengurangi konsekwensi. Jd itu tegas tanpa emosi

Waaah, keren banget masukan mbak Lala ini. Saya masih harus banyak belajar. Jadi orang tua yang tegas namun tetap fun. Bikin aturan main yang tidak terkesan galak. Semoga praktiknya nanti bisa dan dipermudah. Amiiinnnn…

TV dan Anak?

Masih bingung dengan perlu atau tidaknya keberadaan TV di rumah saat ada anak atau jika tidak bisa tanpa TV, bagaimana mengaturnya agar kita bisa meminimasi dampak negatifnya pada anak? Coba simak pendapat dari beberapa orang tua di sebuah grup di bawah ini.

Apa kata beberapa orang tua tentang TV dan anak?

Ada yang cukup ekstrim memutuskan tidak memiliki TV sama sekali di rumah. Ada juga yang tetap memiliki TV tapi pemakaiannya dibatasi jika ada anak. Ada yang bilang untuk anak under 2Y maksimal 30 menit saja dan ada juga yang bilang maksimal 2 jam saja. Ada juga yang bilang ga pake batasan waktu. Orang tua tersebut mengakui memang sudah anti dengan channel TV Indonesia yang banyak gak bermutu itu tapi masih hobi nonton serial luar negeri dan film-film di HBO dan Fox Movies. Dan orang tua yang ketiga ini bilang anaknya paling hanya diputarkan channel Disney atau channel luar negeri lain yang edukatif saja, dan positifnya anaknya cepat bertanya dan menunjuk-nunjuk “apa itu? Apa itu?” ke objek di TV. Jadi menurut mereka tidak apa-apa nyetel TV asalkan didampingi oleh orang tua.

So, what about me?

Kalau saya dan suami sih memang juga masih hobi nonton serial luar negeri dan film di HBO atau Fox movies. Dan menurut saya channel anak seperti JimJam, acara Art Attack di Disney, dan acara2 di National Geographic (seperti Brain Games dan None of Above serta dokumenter lainnya) bisa bermanfaat nambah wawasan dan kreativitas orang tua serta sang anak. Jadi, saya lebih prefer untuk membatasi saja penggunaan TV, menghindari channel Indonesia, dan mendampingi anak saat menonton TV. Setiap orang tua tahu mana keputusan yang terbaik dan terbijak untuk anaknya. Kan kondisi setiap anak berbeda. Saat ini sih kalau saya di rumah sama Kaira yang masih 9 bulan ini pagi-sore saya sama sekali tidak menyetel TV. Ya mungkin nanti kalau Kaira sudah agak besar akan saya setel di waktu-waktu tertentu (jika ada acara Disney’s Art Attack misalkan). Kalau malam ketika ayahnya Kaira pulang kantor dan beristirahat baru deh TV biasanya disetel.

Silahkan menentukan kebijakan yang terbaik untuk keluarga Anda. Yang penting pastikan pendampingan orang tua selalu yaaaa…

Manfaat Membacakan Dongeng pada Anak Sejak Dini

Menurut saya, membacakan dongeng pada anak memiliki banyak manfaat. Apa aja ya? Hmmm…

1. Anak dapat menambah banyak kosakata atau pembendaharaan kata baru. Makanya banyak yang menyarankan untuk membacakan dongeng sedini mungkin. Walaupun bayi kita belum begitu paham maksudnya, tapi otak bayi yang masih seperti kaset kosong mampu menyimpan banyak kosakata baru baginya.

2. Mengasah imajinasi anak. Bahkan orang dewasa pun akan berimajinasi setiap kali membaca buku cerita. Imajinasi anak-anak biasanya jauh lebih kreatif dan tak terhingga dibanding orang dewasa. Memangnya apa pentingnya imajinasi? Orang atau anak yang imajinatif adalah orang yang kreatif. Kreativitas sangat erat relasinya dengan tingkat kecerdasan seseorang. Maka dari itu, perlu sekali kita sebagai orang tua terus dan terus mengajak anak untuk berimajinasi dan berkreasi tanpa dibatasi.

3. Mempererat kedekatan antara orang tua dan anak. Terutama jika kegiatan ini dilakukan rutin setiap malam sebelum anak tidur.

4. Mengajak anak untuk mencintai buku sejak dini. Orang yang gemar membaca (sekarang gak cuma buku, tapi bisa berbagai sumber dari internet misalnya) biasanya memiliki wawasan luas. Tentu saya ingin sekali Kaira tumbuh menjadi salah satunya.

5. Membuat anak mempelajari hubungan sebab-akibat dan menyimpulkan cerita. Biasanya dalam dongeng, tersirat banyak makna yang dapat dipetik. Misal cerita Pinokio yang jika bohong maka hidugnya akan memanjang. Dari cerita itu, anak dapat menyimpulkan bahwa berbohong itu tidak baik dan tidak disukai. Makna-makna tersebut akan terekam dalam otaknya dan akan diaplikasikannya dalam kehidupan nyata. Coba simak kata-kata sang genius terkenal yang bernama Albert Einstein berikut ini..

“If you want your children to be intelligent, read them fairy tales. If you want them to be more intelligent, read them more fairy tales. ”

Semangat bagi para orang tua untuk sering-sering membacakan dongeng pada si buah hati. 🙂

image

Kaira's reading princess fairy tales 😀

Memahami Arti Tangisan Bayi dengan Metode E.A.S.Y

Disclaimer : I’m not an expert, I’m just sharing these useful information I got from books

Para ibu baru mungkin mengalami hal yang sama menghadapi tangisan si kecil yang baru lahir. Bayi nangis kan gak selalu berarti lapar ya.. Baby cries can mean many things. Bisa karena capek, bosan, atau posisi kurang nyaman, atau ngantuk, dsb dsb. Ya wajar lah bayi nangis, karena hanya itu lah satu2nya bentuk komunikasi bayi. Jadi, gak perlu panik kalau bayi nangis. Anggap saja bayi sedang mencoba berbicara dengan kita dan kita tanggapi dengan tenang, bukan dengan kepanikan.

Nah, ada 1 metode yang saya apply agar saya bisa memahami arti tangisan bayi. Bukan, saya bukan seorang baby whisperer seperti Tracy Hogg yang saking tinggi jam terbangnya menghadapi mungkin sudah ribuan bayi, ia bisa membedakan beragam bunyi rengekan bayi dan mengenali jika rengekan seperti ini artinya bayinya capek or lapar. Saya belum secanggih itu, jam terbang saya masih minim sekali (ya secara baru anak pertama, hehe). Akan tetapi, Tracy Hogg memberi tahu cara basic yang bisa diterapkan oleh semua orang agar kita bisa tahu arti tangisan bayi. Bagaimana ya?

Anda pernah membaca buku Baby Whisperer yang ditulis oleh Tracy Hogg (with Melinda Blau) sendiri? Jika pernah, maka Anda pasti sudah mendengar mengenai E.A.S.Y. Jika belum, baiklah akan saya share secara umum ya. Bukunya sulit ditemukan di toko Gramedia Indonesia. Teman saya juga mencari di toko2 buku di Jogja dan tidak berhasil dapat. Saya juga minta teman carikan di Bandung juga gak dapet, online juga tidak tersedia. Akhirnya, suami saya memesankan 2 buku seperti di bawah ini melalui e-bay.

image

Books About Baby Whisperer

Yup, satu bukunya berjudul Baby Whisperer : Sleep (Secrets to Getting Your Baby to Sleep through the Night) dan satunya lagi Secrets of the Baby Whisperer : How to calm, connect, and communicate with your baby. Kedua buku ditulis oleh Tracy Hogg (with Melinda Blau). Secara umum kedua buku membahas metode E.A.S.Y, tapi di buku yang kedua saya sebutkan, juga membahas hal-hal lain berkaitan dengan pengasuhan anak. So, what is E.A.S.Y?

Let’s start from here…

Sebenarnya, tidak seperti orang dewasa, bayi lebih menyukai rutinitas. Semua serba teratur dan rutin dan repeated. Maka, buatlah bayi Anda menjalani setiap harinya dengan rutinitas umum yang sama. Rutinitas umumnya adalah: Makan (Eat) – Aktivitas (Activity) – Tidur (Sleep). Ketika bayi tidur, then itulah waktu Anda (You) sendiri untuk beristirahat atau melakukan apapun yang Anda mau. So, Eat-Activity-Sleep-You (EASY). Lalu setelah bangun tidur, bayi akan mengulang dari makan lagi. Seperti siklus. Dan memang hanya tiga itu saja kan yang bayi lakukan? Kita hanya membuatnya teratur setiap 2 jam (atau setiap 3-4 jam tergantung bayi Anda).

Lalu, apa hubungannya pengaturan rutinitas dengan mengenali arti tangisan bayi?

Okey jadi, jika bayi setiap harinya rutin seperti itu, maka jika bayi menangis pada jam-jam tertentu kita bisa memahami alasan kenapa dia menangis, apa yang dia coba sampaikan. Sebagai contoh, aktivitas harian bayi Anda seperti gambar di bawah ini:

image

Jika bayi Anda mengalami rutinitas seperti contoh di atas, semisal si kecil menangis pada sekitar jam 10.00 maka artinya ia lapar. Jika ia menangis sekitar jam 11.30 artinya ia ngantuk ingin tidur. Atau ketika jam 11.00 tiba2 nangis berarti bisa berarti karena wet diaper atau bosan, tinggal dicek, yang jelas hampir pasti bukan karena lapar atau ngantuk. Tracy Hoggs said that E.A.S.Y isn’t necessarily easy, but it works! And yes, she’s right! It works for me and Kaira.

How do I apply this into real?

Saya hanya menerapkan rutinitas setiap 2 jamnya saja, dengan rangkaian yang persis sama. Tapi, mulai dari jam berapanya yang fleksibel buat saya. Misal Kaira bangun jam 8 ya berarti jam-jam nyusunya adalah jam 8, 10, 12, 14, 16, 18, 20, lalu tidur sekitar jam 20.30 atau 21 tergantung ngantuknya Kaira. Kalau Kaira baru benar2 bangun jam 9 pagi ya dimulai dari jam 9, tapi setiap 2 jamnya sama. Ketika baru lahir, memang sebaiknya jangan dibuat rutinitas ini dulu. Susui kapanpun bayi mau. Menurut Tracy Hoggs sendiri, EASY ini efektif ketika bayi mulai menginjak usia 6 minggu. Jadi, memang awalnya agak sulit. Tapi, cuma perlu sekitar 3-5 hari aja kok untuk mengajarkan rutinitas ini pada bayi, selanjutnya bayi akan bisa mengikuti polanya. Misal Kaira menyusu jam 10, biasanya jam 11 sudah merengek2 sambil mengucek2 mata yang artinya ia ngantuk, maka saya gendong sampai ia tertidur. Percayalah, bayi itu pintar, jadi menjelang jam 12, Kaira biasanya secara otomatis akan bangun dan merengek artinya ia lapar/haus. Amazing, bukan?

Dengan begitu, selain bisa melihat arti tangisan bayi dengan memperhatikan waktunya, kita juga bisa mempelajari gelagat2 khas bayi ketika menangis. Ya seperti tadi, jika Kaira ngantuk, nangisnya sambil ngucek2 mata, dan lain sebagainya. It does works! Ini juga memudahkan pengasuhnya ketika saya meninggalkan Kaira bekerja selama 1,5 bulan. Pengasuhnya menjadi ikut tahu polanya Kaira dan bisa menanganinya dengan mudah.

Menurut saya, manfaat metode E.A.S.Y ini antara lain:
1. Memudahkan komunikasi antara ibu dan bayi.
2. Anak bisa belajar percaya (trust) pada sang ibu karena sang ibu bisa memahami apa yang ia coba sampaikan. Tidak ada miskomunikasi, hehehe..
3. Sang ibu bisa me-manage waktu untuk dirinya sendiri.
4. Untuk ibu yang bekerja, bisa mengetahui persis berapa botol ASIP yang harus ia sediakan selama bayi ditinggal kerja.

Untuk lebih lengkap dan detailnya, misal mengenai masalah2 apa saja yang dihadapi ketika menerapkannya, atau aktivitas apa saja yang termasuk Activity time nya bayi, atau panduan untuk memulai EASY pada bayi Anda, bisa dibaca di kedua buku tersebut. Or you can ask me, feel free to ask.. 😀

Kedua buku ini amat sangat saya rekomendasikan dibaca sebelum melahirkan. Very useful and trust me, it works.

ASI Eksklusif untuk Daya Tahan Tubuh Anak

Adalah sebuah mitos bahwa ibu yang sedang flu disarankan untuk tidak menyusui bayinya dikarenakan bayi akan tertular virus flu dari ASI nya. Justru, sebaliknya, ibu harus tetap menyusui si kecil. Kenapa? Karena….

Tahu di dalam ASI itu terkandung apa saja? Di setiap tetes ASI itu, terdapat jutaan sel darah putih (leukosit) yang membentuk antibodi untuk membantu bayi terhindar dari segala macam penyakit dan infeksi. Tentunya dengan catatan, bayinya diberi ASI eksklusif, tanpa sedikit pun susu formula. Antibodi dalam tubuh bayi justru telah terbentuk sebelum ibu terserang virus flu tersebut. Jadi bahkan sebelum ibu mulai merasakan gejala flu, antibodi sudah terbentuk dan tersalur lewat ASI ke bayi kita. Untuk mengurangi risiko tertular, tetap susui si kecil dengan menggunakan masker.

Saya beberapa hari lalu baru merasakan gejala pilek dan batuk berdahak. Sebagai ibu baru yang memiliki bayi berusia 3 bulan, saya sedikit waswas. Saya pun langsung menanyakan teman saya yang sesama ibu menyusui, minta saran obat flu dan batuk apa yang aman untuk ibu menyusui, karena tentu seperti kita masih hamil, jangan minum obat sembarangan, takutnya berdampak negatif pada bayi kita atau produksi ASI kita. Teman saya menyarankan obat herbal Silex, tanpa antibiotik, bisa dibeli di apotek. Tapi, berhubung saya orangnya sedikit panikan, to be more sure, saya pergi ke dokter. Dokter memberi saya obat Anadex, Epexol, dan Amoxiclav sebagai antibiotik. Menurut dokter tersebut aman untuk saya dan bayi. But my husband wanted to be more sure by asking his doctor friend about the safety of the medicines for me and baby. Dari hasil diskusi by phone, teman kami tersebut tidak menyarankan untuk mengkonsumsi Anadex itu, karena mengandung Dextromethorphan yang amannya untuk bayi usia 2 tahun up (padahal dokter yang kami kunjungi sudah menanyakan berapa usia anak saya). Sementara Epexolnya justru sebenarnya untuk batuk tidak berdahak. Maka, ketika saya memaparkan bahwa pilek saya masih jernih dan encer (belum yang parah kental dan berwarna), serta batuknya masih belum parah juga, saya disarankan sebaiknya perbanyak istirahat saja dan konsumsi vitamin C untuk meningkatkan daya tahan tubuh untuk melawan virusnya. Jadilah, saya hanya konsumsi Vitamin C dan susu (merk) beruang dan banyakin istirahat.

Alhamdulillahnya, 2 hari kemudian sudah feeling much better dan my 3 months old baby, Kaira, so far belum tertular flu sedikit pun. Semua berkat ASI Eksklusif. Beda oleh cerita teman-teman saya yang bayinya yang berusia 2 bulan dan bayi usia 3 minggu sudah tertular flu dengan mudahnya dari orang tuanya, dikarenakan ASI nya tidak eksklusif. Jadi, para bunda, jika akan memikirkan untuk ingin memberikan susu formula pada si kecil, pikirkan sekali lagi. Bunda tidak ingin anaknya gampang sakit di kemudian hari kan? Jika anak sakit, pasti rasanya lebih baik kitanya saja yang sakit toh? ASI adalah obat alami dari segala macam penyakit, percayalah. 😉

Periode Emas : 0-5 Tahun

Periode emas, atau bisa disebut juga dengan golden age. What is golden age? Golden age adalah tahap kehidupan seseorang yang paling krusial dimana pada tahap ini, kepribadian, karakter, serta pola pikir seseorang pertama kali terbentuk. Pada usia berapakah usia krusial ini? Yaitu usia 0-5 tahun.

Nah, di usia tersebut, anak yang baru lahir ke dunia, tentu otaknya bagaikan pita kaset kosong yang siap menyimpan tak terhingga mulai dari informasi, perlakuan dan kasih sayang. Karena masih seperti pita kaset kosong, rekaman-rekaman yang masuk di dalam otak anak usia emas ini merupakan rekaman yang paling jernih dan tanpa filterisasi yang akan tersimpan hingga dewasa. Tidak seperti kita yang sudah dewasa yang bisa lebih kritis dalam menyerap informasi karena sudah melewati tahapan pemberian makna pada simbol dan sebagainya di periode emas.

Lalu kenapa di periode ini karakter dan personality terbentuk? Karena otak anak di usia emas ini masih sangat kognitif atau fluid, dengan kata lain masih sangat mudah dibentuk oleh kita, orang tuanya.

Oleh karena itu, kita sebagai orang tuanya harus secara tepat dan juga hati-hati dalam mendidik anak, karena anak akan sangat mampu meniru semua perbuatan dan perkataan kita baik yang bagus maupun yang buruk tanpa filterisasi. Misal jika orang tuanya suka memberi apresiasi terhadap segala hal positif yang anak lakukan sejak bayi, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan bisa turut menghargai orang lain. Sebaliknya, jika orang tua kerap menghukum atau memberi ancaman, anak juga cenderung suka memberi hukuman atau ancaman kepada teman-temannya ketika sudah beranjak besar.

Maka kasih sayang yang sangat besar dari orang tuanya sangat diperlukan oleh anak di usia emas agar anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, suka menghargai, memiliki trust yang besar pada orang tuanya, mandiri, dan kreatif. Memang seringkali tidak mudah, terlebih lagi jika anak sudah mulai memiliki kemauan. Konsistensi, integritas dan kesabaran yang besar wajib dimiliki oleh setiap orang tua agar bisa berhasil.

Pada post ini saya hanya menjelaskan secara garis besar saja mengenai apa itu golden age. Insya Allah di postingan berikut2nya akan dijelaskan tahapan2 di dalam golden age itu sendiri. Just remember, we must be smart parents to make our children smarter more. 🙂

Sumber: berbagai sumber

Menenangkan Kaira

Selayaknya bayi pada umumnya, Kaira tentu kadang terlihat agak rewel. Sebenarnya bukan rewel, saya tidak suka dengan istilah rewel, karena bayi menangis pastilah ada sebabnya hanya saja kita kadang tidak tahu pasti. Nah jika bayi menangis dan kita tidak tahu mengapa (bukan karena pipis, haus/lapar, maupun mengantuk) dan digendong sambil ditimang2 pun tidak membuat Kaira lebih tenang, maka tentu kita sebagai orang tua sering melakukan inisiatif. Kalau Kaira sedang agak rewel seperti itu, hal2 berikut sering ampuh membuat Kaira lebih tenang.

1. Mengajaknya jalan-jalan naik mobil. Kaira selalu senang berada di dalam mobil yang berjalan, sehingga saya menyebut mobil sebagai ayunan raksasanya. Ia akan terbuai hingga tertidur, atau Kaira akan dengan excitednya agak mendongakkan kepala memandangi pemandangan di luar jendela mobil.

2. Mengajaknya jalan-jalan sambil digendong. Kaira juga biasanya akan dengan excited nya memandangi hal-hal baru di matanya. Senang sekali ia mendongakkan kepala jika diajak berkeliling.

3. Memutar-mutar benda bergantungan di atasnya. Kayaknya semua bayi senang dengan sesuatu yang digantung dan berputar, termasuk Kaira. Matanya akan bergerak mengikuti benda tersebut dan tangannya akan menggapai-gapai benda tersebut. Seringkali kedua kakinya tak bisa diam.

4. Meletakkannya di bouncer yang memiliki mainan yang digantung. Seru juga memandangi Kaira memandangi mainan2 yang digantung di bouncernya, karena dia akan menggerakkan kaki2 dan kedua tangannya ke arah mainan sambil berteriak2 pendek. Sekarang seringkali sambil memainkan air liurnya.

5. Mengajaknya berbaring dan melihat diri sendiri dengan menggunakan kamera depan hp. Ini favorit saya, terutama jika sedang agak lelah setelah menggendong lama Kaira, dan juga karena ekspresi Kaira yang langsung serius dan fokus melihat dirinya sendiri di kamera hp. Hahahah…

Cara untuk menenangkan setiap bayi pasti beda-beda. Yang jelas, jangan ragu mencoba segala hal baru dalam pengasuhan anak kita.

Tidur Bersama Bayi atau Box Bayi?

Setiap calon ibu baru pasti excited to the max untuk membeli perlengkapan bayinya. Saya mulai belanja keperluan bayi di usia kehamilan 7 bulan dengan membuat list serta jumlah yang diperlukan terlebih dahulu (sumbernya dari googling plus nanya2 teman yang sudah lahiran duluan). Satu benda yang pasti dirasa ingin dibeli oleh semua calon ibu, yaituuuuuu baby box. Bukan begitu? Hehe. Namun sejak awal saya tidak menuliskan baby box ke dalam “things to buy” list saya. Why? Simak tiga alasan di bawah.

Pertama, awalnya karena mendengar cerita beberapa teman yang sudah lahiran. Mereka bilang sudah beli baby box tapi by the end gak kepake juga. So I asked why? They said, karena jadi gak praktis. Kalau malam kan bayi sering nangis, sering pengen nyusu dan pipis terus. Sementara, sehabis lahiran, naik-turun tempat tidur itu bisa sangat melelahkan karena masih dalam tahap penyembuhan bekas jahitan kita. Jadi, menurut teman saya itu, akhirnya daripada capek naik-turun tempat tidur, bayinya ditidurkan di sampingnya sehingga jika bayinya bangun minta susu, ia dapat langsung menyusuinya sambil tiduran. Praktis dan nyaman.

Alasan kedua, karena ternyata memang disarankan agar ibu tidur bersama bayi. Cara pengasuhan seperti ini dijelaskan dalam buku Baby Books-nya William & Martha Sears. Menurut mereka, cara tidur yang paling dianjurkan untuk bayi adalah dengan tidur bersama orang tuanya, walaupun cara ini terdengar konvensional di jaman modern ini. Beberapa alasannya lebih efektif:
– bayi2 tidur dengan lebih baik
– bayi tidur dengan lebih lelap
– ibu2 dapat tetap tidur dengan lebih baik
– penyusuan menjadi lebih mudah
– bayi tumbuh dan berkembang

Alasan ketiga, karena sebenarnya juga tidak ada space yang cukup untuk meletakkan baby box di kamar kami, hahaha…

Bagaimana dengan Kaira? Walaupun buku menyarankan bayi tidur di samping ibunya, ya saya merasa was-was juga. Nanti malah saya gak sadar terus jadi nindihin bayi gimana? Dan takut bayi akan tidak nyenyak juga di tempat tidur yang kadang bergoyang karena ayahnya suka gerak2. Jadi, awalnya kami beli tempat tidur portable saja. Sehingga, bayi tetap bisa tidur di tempat tidurnya sendiri yang diletakkan di ranjang bersama kami. Tapi, setelah sebulan akhirnya kami membungkus tempat tidur portable itu juga. Sekarang Kaira selalu tidur di samping saya. Kenapa? Karena ada suatu masa (ceileehh) di mana Kaira selalu terbangun jika saya letakkan di tempat tidurnya, sehingga kami angkat lagi. Yah mata saya kan juga perlu istirahat, jadinya saya susui Kaira sambil tiduran hingga kami berdua tertidur pulas berdampingan. Besok2nya masih seperti itu, hingga akhirnya kami simpan saja tempat tidur Kaira itu. Sekarang2 sih Kaira mau saja diletakkan di ranjang kami ketika sudah tertidur pulas di malam hari. Kalau Kaira belum begitu nyenyak ya kami usahakan sebaik mungkin agar ranjang tidak terlalu bergoyang ketika kami bergerak agar tidak mengagetkannya. Dan justru semenjak Kaira tidur di samping saya, tidurnya Kaira jadi super pulas. Bangun ketika hanya ingin nyusu, pipis hanya sekali ketika sudah jam 4 pagi biasanya (masih hanya menggunakan diapers jika Kaira sedang rewel di malam hari atau stock popok kain sudah habis belum dicuci). Kalau ia ingin nyusu saja (popok tetap kering), langsung saya susui sambil tiduran dan gak lama, Kaira tertidur pulas lagi. Saya hampir tidak pernah begadang lagi sekarang, hehe.. Ternyata benar kata William & Martha Sears di bukunya itu. Tidur bersama memang terbukti lebih efektif bagi kami. Dan tenang saja, dijamin aman.

Wanna give it a try? 🙂

image

Posisi Pewe Kaira jika Tidur di Samping Ibunya

Mitos “Bau Tangan”

Ever heard that term? Kata orang jaman baheula, “bayi jangan keseringan digendong, nanti jadi manja dan bau tangan”. Is it true? Is there still any new mom believe that?

Well, mari kita bicara fakta. Bayi hanya punya 1 cara untuk komunikasi, yaitu dengan menangis. Tidak ada cara lain. Jadi, apa tiap kali bayi menangis selalu berarti bayi kehausan? Nope! Baby cries can mean many things. It can be that baby feels tired or overstimulated, or just feel bored, or not comfortable, or many things else. Ketika bayi yang sedang berbaring tiba2 menangis, itu artinya ia sedang berkomunikasi dengan kita, sedang berusaha menyampaikan sesuatu kepada kita. Jika kita tidak segera mendekatinya dan bertindak, bayi tentu akan merasa ia tidak didengar. Apa yang ia coba sampaikan tidak dihargai. Otak bayi 0-1,5 thn itu masih bagaikan hard disc kosong yang dapat merekam semua dengan baik. Jika ia merasa tidak pernah didengar dan itu melekat di otaknya hingga dewasa, justru berbahaya bukan?

Coba untuk selalu menempatkan diri Anda sebagai bayi Anda. Anda hanya bisa berbaring. Berbaring terus dalam waktu cukup lama pasti akan terasa membosankan kan? Anda ingin bilang “hey, saya bosan, ajak saya berkeliling!”, tapi Anda tidak bisa, hanya bisa memberi tahu dengan cara menangis. Sudah capek-capek nangis ditambah bosan, ehh tangisan Anda ternyata tidak dihiraukan, apa Anda mungkin tidak merasa kesal? Pasti kesal karena Anda tidak didengar, padahal saat itu Anda hanya ingin diajak berkeliling atau sekedar ditemani.

Okay, itu di atas adalah fakta pertama, bahwa menangis merupakan satu2nya bentuk komunikasi bayi. Fakta kedua, di usianya yang masih amat sangat dini (0-1,5 thn), bayi belum saatnya untuk memahami atau belajar mandiri. Anak belajar mandiri bukan di usia ini. Kenapa? Lagi2 bayangkan diri Anda sebagai bayi. Sebelumnya selama berbulan-bulan, Anda berada dalam kenyamanan dan kehangatan rahim ibu. Tidak ada gangguan. Tiba-tiba saja, Anda berada di dunia dan dikelilingi oleh hal2 yang totally asing dan 100 persen berbeda dari rahim ibu. Apa yang Anda inginkan di tengah2 asingnya dunia baru itu? Yang Anda inginkan pastilah rasa nyaman dan aman. Ya, bayi senang digendong bukan karena ingin dimanja. Mereka bahkan belum memahami apa itu manja. Mereka cuma perlu rasa aman itu dan kasih sayang.

Fakta terakhir, ini berdasarkan penelitian. Bahwasanya bayi yang segera mendapat perhatian sesaat setelah menangis, entah dengan ditimang maupun didekati, kelak akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat secara emosional. Ia pun nantinya menjadi orang mandiri serta lebih percaya diri. Kok bisa? Ya karena seperti yang sudah dipaparkan di atas sebelumnya. Bayi merasa ia dihargai dan didengar, sehingga kita memperoleh trust atau kepercayaan dari dirinya. Beranjak dewasa, sang anak percaya bahwa sang orang tua akan selalu mendampinginya dan memberinya kasih sayang di setiap situasi berdasarkan apa yang ia alami sejak masih bayi. Sebaliknya, bayi2 yang tidak mendapat perhatian dan dibiarkan menangis terlalu lama, saat dewasa akan tumbuh menjadi pribadi yang kurang mandiri, peragu, atau tidak memiliki kepercayaan diri yang kuat.

Satu lagi kelebihan tambahan jika bayi sering digendong. Jika bayi sering digendong terutama ketika kita sedang berbicara dengan orang lain, bayi akan ikut mendengarkan karena sang penggendong berada dekat di jangkauan pendengarannya. Jadi, kosakata baru akan bertambah di database otaknya dan ini tentu bisa memicu bayi agar cepat berbicara. Banyak banget kan keuntungannya?

Jadi, jangan pernah kuatir dengan istilah bau tangan, karena itu hanyalah salah satu mitos parenting. Kalau capek gendong bayi terus, saran saya gunakan gendongan yang paling nyaman buat Anda. Gendongan yang paling nyaman buat saya adalah baby wrap. Gendong Kaira berjam-jam gak pegal loh, karena bebannya merata di bahu hingga punggung. Numpang narsis dikit deh, foto saya gendong Kaira pake baby wrap, hehehe.. Kalau bayinya sudah bisa tegak lehernya, makin enak gendongnya. Lagian gapapa lah ya, repot gendong di awal2 saja, biar nanti kalau anak sudah gede justru gak nyusahin kita lagi. 🙂

image

Gendong Kaira pake Baby Wrap

Susah Mandiin si Kecil?

image

Selalu perjuangan setiap kali mandiin si kecil gak? Every baby is unique. Ada yang langsung suka ketika dimandikan ada juga yang menjerit-jerit tidak suka. Kaira pertama kali dimandikan nangis menjerit. Kalau udah menjerit, tangisannya bisa terdengar sampai perempatan (fiuh!). Di bulan pertamanya, saat masih dimandikan oleh neneknya, seringnya Kaira nangis sejak awal dimandikan hingga dipakaikan baju. Jadi gak bisa lama-lama memandikan si kecil.

Gak usah frustasi. Tetap sabar ya, mandiin si kecil. Kenapa si kecil gasuka dimandiin ya? Pasti pada heran, seperti saya pada awalnya. Padahal air kan enak. Anak-anak kecil pada suka aja mandi, apalagi kalau mandi air hujan, beuhhh… Lalu, bayi kenapa pada awalnya gak suka dimandiin? Menurut buku “Baby Books” (karya William & Martha Sears), bayi tidak suka mandi bisa jadi karena lapar/haus atau karena bayi merasa tidak aman ketika berada di dalam air.

Di buku baby books itu, agar bayi tidak menjerit saat dimandikan, orang tua bisa coba untuk ikut mandi di bath tub bersama si kecil sehingga si kecil merasa aman bersama si ibu. Atau bisa juga dengan melakukan kegiatan memijat bayi setiap selesai mandi, sehingga jika si kecil akan mandi, ia akan mengasosiasikan bahwa setelah mandi pasti akan ada kegiatan yang menyenangkan, yaitu dipijat.

Nah, saat ditinggal orang tua, tentu jadi kewajiban saya lah mandiin Kaira, bukan si nenek lagi. Awal-awal Kaira seringnya nangis ketika saya mandikan, seperti dimandikan oleh neneknya. Ketika pergi ke Balikpapan, mengantar ortu ke airport, kami sengaja bermalam dan menginap di hotel. Nah, di rumah kan gak ada bath tub (besar), jadi pas di hotel itulah saya praktikkan, ikut nyemplung ke dalam bath tub bersama Kaira. Daaann berhasil! Kaira gak nangis sama sekali saat dimandikan. Lalu, hari-hari berikutnya, Kaira sudah tidak pernah nangis lagi saat saya mandikan di bak mandinya, bahkan sudah bisa tertawa. Caranya ya, selalu saya ajak ngobrol dan memberi penjelasan padanya apa-apa saja yang saya lakukan kepada Kaira selama saya mandikan itu. Saat saya mandikan di baknya, saya pegang lehernya, sambil berbicara dengannya, Kaira tidak pernah melepaskan pandangannya ke saya, seakan-akan sangat bergantung terhadap keberadaan saya di sampingnya. Tandanya, memang bayi memerlukan rasa aman dari kita saat dimandikan. Sebelum mandi memang sebaiknya bayi disusui dulu sampai puas, pastikan ia tidak mandi dalam keadaan lapar/haus.

Kadang Kaira masih nangis ketika sudah diangkat dari bath tubnya dan dikeringkan dengan handuk. Tampaknya sih karena perubahan suhu yang ia rasakan. Maka, air mandinya tidak perlu terlalu hangat juga ya. Disesuaikan dengan suhu ruangan. Usahakan tidak terlalu ekstrem perbedaan antara suhu air hangatnya dengan suhu ruangan (saat itu). Agar si kecil tidak terlalu kaget dengan perubahan suhunya dan jadi kedinginan.

Jika masih ada new moms yang mengalami kesulitan saat memandikan newborn babies, bisa dicoba salah 1 cara di atas. Insya Allah, selama kita respect dengan si baby, ia akan nyaman dimandikan kita.