Jika Anak Tetangga Main dengan Anak Kita di Rumah

Suatu malam, sebuah grup (whatsapp) dari kumpulan alumni webinar HS (Homeschooling) usia dini sedang ramai. Malam itu, para member grup lagi pada ngomongin tentang anak kita bergaul dan bermain dengan anak tetangga. Memang hal ini bagus untuk sosialisasi anak kita, apalagi anak-anak itu cepat akrab walau baru kenal. Akan tetapi, sering terjadi sedikit kekhawatiran apabila anak tetangga melakukan hal-hal yang tidak tertib (atau nakal). Kita, orang tua, kuatir apabila anak kita meniru kenakalan anak tetangga, padahal kita udah capek-capek brainwash si anak untuk berperilaku baik. Nah, karena ada teman saya bercerita tentang kekesalannya melihat anak tetangga yang main dengan balitanya di rumahnya lalu si anak itu (padahal usianya lebih tua) merusak beberapa mainan dan sering masuk kamar orang tanpa permisi, jadi saya tanyakanlah untuk dapat masukan.

Me: ikut nimbrung.. ada temen cerita.. klo misal ada anak main k rmh.. trus dy misalny rusakin mainan yg bukan miliknya trus sering masuk kamar tanpa izin.. takutnya kan anak kita jd niru anak tetangga itu.. enakny klo gitu ksh tw gmn y? mgkn dy begitu krn meniru ortunya.. tp klo ksh tw ortuny kan jg ga enak

Yang kemudian dijawab oleh Mbak Lala (Mira Julia -pakar & praktisi HS) yang memberikan masukan kreatifnya. Saya tulis disini karena sebagai pengingat untuk diri saya nanti.

Mbak Lala ‬: Mb hanifah, mungkin bisa diajak main pura2.. Jadi kalau ke rumah tante pura2nya ke istana mainan (misalnya). Trus dia dikasih karcis. Sambil bilang. Di istana mainan boleh main apa saja tapi nggak boleh berantakan. Kalau tidak mengembalikan mainan nanti dapet kartu kuning. Kalau 3x kartu kuning dikasih kartu merah nggak boleh masuk lagi ke istana mainan. Kalau kejadian anak dapat kartu merah , maka langsung bilang “waa ada yg dapat kartu merah berarti istana mainan tutup”. Anak2 diminta keluar, tutup pintuhya. Trus ajak anak sendiri keluar dr rumah kemanaaa gt, jadi nggak seperti ngusir.

Mbak Lala : Ada perjanjian yg dapet kartu merah baru boleh main lagi kalau datang sama ibunya (justru menurutku gpp ibunya biar datang spy diceritakan ttg “aturan main”) kalau aku sih nggak sungkan ngomong sama orangtua krn kan maksudnya buat kepentingan sama2. Bukan menyatakan dia nakal, tp cm bilang aja bahwa ada aturan main ini..

Mbak Lala : Yg susah sih praktek di lapangan memang. Tp menurutku selama kita nggak pakai marah, hanya menjalankan aturan main biasanya orangtua anak tetangga nggak papa kok

Mbak Lala ‬: Trus bikin “peer pressure” dikit. Jadi kalau ada satu anak dapat kartu merah maka istana mainan langsung tutup sementara jadi yg lain kan merasa rugi nih gara2 si A. Jd di kemudian hari mereka saling mengingatkan spy nggak rugi semua

Mbak Lala ‬: Kalau aku biasanya nggak bisa ditawar tapi untuk mencairkan suasana aku melakukan hiburan lain. Misalnya kalau dalam kass tadi, istana mainan tutup tp anak2 yg nggak nakal diajak main ke taman. Di taman beli eskrim sambil diberikan pengertian bahwa ini terjadi karena ada aturan

Mbak Lala ‬: Atau kalau dalam kasus anak sendiri misal melanggar kesepakatan maka langsung berlaku konsekwensi. Tp kalau suasana mulai nggak enak, aku mulai cari hiburan lain misal ngajak main, bikin kue atau apa. Jadi konsekwensi (hukuman) jalan terus. Tp kalau kita nggak tega kita hibur disisi yg lain tp tidak mengurangi konsekwensi. Jd itu tegas tanpa emosi

Waaah, keren banget masukan mbak Lala ini. Saya masih harus banyak belajar. Jadi orang tua yang tegas namun tetap fun. Bikin aturan main yang tidak terkesan galak. Semoga praktiknya nanti bisa dan dipermudah. Amiiinnnn…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s